• Jelajahi

    Copyright © Kompas News Bedah Info
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Kisah Wanita Yang Soleh

    admin
    7/13/14, 04:18 WIB Last Updated 2021-11-10T16:40:51Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    Sore itu, menunggu kedatangan teman
    yang akan menjemputku di masjid ini seusai
    ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum
    dan duduk disampingku, mengucapkan
    salam, sambil berkenalan dan sampai pula
    pada pertanyaan itu. “anty sudah
    menikah?”. “Belum mbak”, jawabku.
    Kemudian akhwat itu .bertanya lagi
    “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan
    senyuman.. ingin ku jawab karena masih
    kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

    “mbak menunggu siapa?” aku mencoba
    bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku
    melihat kesamping kirinya, sebuah tas
    laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak
    bisa kutebak apa isinya. Dalam hati
    bertanya- tanya, dari mana mbak ini?
    Sepertinya wanita karir. Akhirnya
    kuberanikan juga untuk bertanya “mbak
    kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg
    meyakiniku bahwa mbak ini seorang
    pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti
    ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu
    rumah tangga.

    “Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi
    tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah
    yang aneh menurutku, wajah yang bersinar
    dengan ketulusan hati.
    “kenapa?” tanyaku lagi.
    Dia hanya tersenyum dan menjawab
    “karena inilah cara satu cara yang bisa
    membuat saya lebih hormat pada suami”
    jawabnya tegas.

    Aku berfikir sejenak, apa hubungannya?
    Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
    Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya
    berharap ini bisa menjadi pelajaran
    berharga buat kita para wanita yang Insya
    Allah akan didatangi oleh ikhwan yang
    sangat mencintai akhirat.

    “saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu
    saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya
    7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai
    penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di
    siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan
    kemarinlah untuk pertama kalinya saya
    menangis karena merasa durhaka padanya.
    Waktu itu jam 7 malam, suami baru
    menjemput saya dari kantor, hari ini
    lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang.
    Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami
    masuk angin dan kepalanya pusing. Dan
    parahnya saya juga lagi pusing. Suami
    minta diambilkan air minum, tapi saya
    malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil
    sendirilah”.

    Pusing membuat saya tertidur hingga lupa
    sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan
    cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing
    pun telah hilang. Beranjak dari sajadah,
    saya melihat suami saya tidur dengan
    pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua
    piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang
    bukan mencucinya kalo bukan suami saya?
    Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.

    Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan
    semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi
    malam? Saya segera masuk lagi ke kamar,
    berharap abi sadar dan mau
    menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu
    lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai
    memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah
    suami saya itu, ya Allah panas sekali
    pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman,
    tinggi sekali panasnya.

    Saya teringat atas
    perkataan terakhir saya pada suami tadi.
    Hanya disuruh mengambilkan air minum
    saja, saya membantahnya. Air mata ini
    menetes, betapa selama ini saya terlalu
    sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan
    hak suami saya.”

    Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita
    dengan semangatnya, membuat hati ini
    merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air
    mata yg di usapnya.

    “anty tau berapa gaji suami saya? Sangat
    berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar
    600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya.
    Dan malam itu saya benar-benar merasa
    durhaka pada suami saya.

    Dengan gaji yang
    saya miliki, saya merasa tak perlu meminta
    nafkah pada suami, meskipun suami selalu
    memberikan hasil jualannya itu pada saya,
    dan setiap kali memberikan hasil jualannya ,
    ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki
    dari Allah.

    Di ambil ya. Buat keperluan kita.
    Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an
    umi ridho”, begitu katanya.

    Kenapa baru sekarang saya merasakan
    dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini
    membuat saya sombong pada nafkah yang
    diberikan suami saya”, lanjutnya
    “Alhamdulillah saya sekarang memutuskan
    untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan
    dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai
    nafkah yang diberikan suami. Wanita itu
    begitu susah menjaga harta, dan karena
    harta juga wanita sering lupa kodratnya,
    dan gampang menyepelekan suami.”
    Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan
    bagiku untuk berbicara.

    “beberapa hari yang lalu, saya berkunjung
    ke rumah orang tua, dan menceritakan niat
    saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan
    saudara-saudara saya tidak ada yang
    mendukung niat saya untuk berhenti
    berkerja. Malah mereka membanding-
    bandingkan pekerjaan suami saya dengan
    orang lain.”

    Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh
    kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti
    dia? Menerima sosok pangeran apa adanya,
    bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
    “kak, kita itu harus memikirkan masa
    depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita
    kak. Biaya hidup sekarang ini besar.

    Begitu
    banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah
    kakak malah pengen berhenti kerja. Suami
    kakak pun penghasilannya kurang. Mending
    kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah
    kita santai-santai aja di rumah.

    Salah kakak
    juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga,
    seharusnya nikah sama yang kaya. Sama
    dokter muda itu yang berniat melamar
    kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi
    kakak lebih milih nikah sama orang yang
    belum jelas pekerjaannya.

    Dari 4 orang anak
    bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya
    penghasilan tetap dan yang paling buat
    kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih
    suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di
    bank oleh saudara sendiri yang ingin
    membantupun tak mau, sampai heran aku,
    apa maunya suami kakak itu”.

    Ceritanya
    kembali, menceritakan ucapan adik
    perempuannya saat dimintai pendapat.
    “anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu.
    Saya menangis bukan Karena apa yang
    dikatakan adik saya itu benar, bukan karena
    itu. Tapi saya menangis karena imam saya
    dipandang rendah olehnya.

    Bagaimana
    mungkin dia meremehkan setiap tetes
    keringat suami saya, padahal dengan
    tetesan keringat itu, Allah memandangnya
    mulia. Bagaimana mungkin dia menghina
    orang yang senantiasa membangunkan
    saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana
    mungkin dia menghina orang yang dengan
    kata-kata lembutnya selalu menenangkan
    hati saya.

    Bagaimana mungkin dia
    menghina orang yang berani datang pada
    orang tua saya untuk melamar saya,
    padahal saat itu orang tersebut belum
    mempunyai pekerjaan. Baigaimana
    mungkin seseorang yang begitu saya
    muliakan, ternyata begitu rendah
    dihadapannya hanya karena sebuah
    pekerjaan.

    Saya memutuskan berhenti bekerja, karena
    tak ingin melihat orang membanding-
    bandingkan gaji saya dengan gaji suami
    saya. Saya memutuskan berhenti bekerja
    juga untuk menghargai nafkah yang
    diberikan suami saya.

    Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk
    memenuhi hak-hak suami saya. Semoga
    saya tak lagi membantah perintah suami.
    Semoga saya juga ridho atas besarnya
    nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan
    pekerjaan suami saya, sangat bangga,
    bahkan begitu menghormati pekerjaannya,
    karena tak semua orang punya keberanian
    dengan pekerjaan itu.

    Kebanyakan orang
    lebih memilih jadi pengangguran dari pada
    melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi
    lihatlah suami saya, tak ada rasa malu
    baginya untuk menafkahi istri dengan
    nafkah yang halal. Itulah yang membuat
    saya begitu bangga pada suami saya.
    Semoga jika anty mendapatkan suami
    seperti saya, anty tak perlu malu untuk
    menceritakannya pekerjaan suami anty
    pada orang lain.

    Bukan masalah
    pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya,
    berkahnya, dan kita memohon pada Allah,
    semoga Allah menjauhkan suami kita dari
    rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil
    tersenyum manis padaku.

    Dia mengambil tas laptopnya,, bergegas
    ingin meninggalkannku. Kulihat dari
    kejauhan seorang ikhwan dengan
    menggunakan sepeda motor butut
    mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi
    kaca helm, meskipun tak ada niatku
    menatap mukanya.

    Sambil mengucapkan
    salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang
    sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.
    Ya Allah….
    Sekarang giliran aku yang menangis. Hari
    ini aku dapat pelajaran paling baik dalam
    hidupku.

    Pelajaran yang membuatu menghapus
    sosok pangeran kaya yang ada dalam
    benakku..
    Subhanallah..
    Sahabat..
    Kekeliruan slama ini, orang mengganggap
    kebahagiaan itu adalan kaya akan materi..
    mobil mewah.. rumah bagus..

    Tapi sesungguhnya kekayaan sebanarnya
    itu ada saat kita merasa cukup akan nikmat
    ALLAH walaupun tanpa ada materi yang
    bersifat wah..

    ((( Like Shre  )))
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +